Marwah Tiyasa Sari
Guru Bahasa Indonesia, SMK Muhammadiyah 2 Jatinom
“Siapa yang bisa menjelaskan fungsi mesin bubut?”
Hampir seluruh tangan siswa kelas XI Teknik Mesin SMK Muhammadiyah 2 Jatinom terangkat. Saat itu saya sedang mengajar teks prosedur. Mereka bergantian menjelaskan cara kerja mesin, jenis pahat, hingga kesalahan yang sering terjadi saat praktik.
Namun, suasana berubah ketika saya bertanya, “Apa pengalaman paling berkesan yang kalian alami minggu ini di luar sekolah?”
Kelas mendadak sunyi. Sebagian siswa menunduk, sebagian tersenyum canggung, dan beberapa memilih mengalihkan pandangan. Padahal, beberapa menit sebelumnya mereka begitu lancar menjelaskan hal-hal teknis yang mereka kuasai.
Peristiwa itu membuat saya bertanya: apakah siswa memang tidak mampu berargumentasi, atau mereka sebenarnya memiliki gagasan tetapi belum cukup berani mengungkapkannya?
Selama ini, kesulitan siswa dalam berargumentasi sering dikaitkan dengan rendahnya literasi, kurangnya penguasaan teori, atau minimnya latihan berbicara. Penjelasan tersebut tentu ada benarnya. Namun, pengalaman di kelas membuat saya melihat persoalan dari sisi lain: kemampuan berpikir siswa tidak selalu berbanding lurus dengan keberanian mereka untuk berbicara.
Siswa saya dapat menjelaskan mengapa putaran spindle harus disesuaikan dengan material benda kerja. Mereka mampu menerangkan mengapa kesalahan penyetelan dapat menghasilkan produk yang tidak presisi. Ketika berbicara tentang mesin, mereka dapat memberikan alasan, menjelaskan hubungan sebab-akibat, bahkan mempertahankan pendapat.
Kesulitan muncul ketika pembicaraan bergeser ke pengalaman pribadi, pandangan terhadap suatu peristiwa, atau alasan di balik pilihan mereka. Pada titik itu, siswa yang sebelumnya aktif dapat berubah menjadi pendiam.
Saya mulai berpikir bahwa persoalannya bukan semata-mata kemampuan berpikir. Ada faktor psikologis yang ikut menentukan apakah sebuah gagasan akan disampaikan atau justru disimpan dalam pikiran.
Penelitian tentang fear of negative evaluation menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap penilaian orang lain dapat memengaruhi pengalaman belajar dan partisipasi siswa. Dalam penelitian terhadap 494 mahasiswa pada pembelajaran biologi aktif, sebagian mahasiswa melaporkan bahwa rasa takut dinilai negatif berdampak pada kemampuan mereka mengartikulasikan pikiran di kelas (Cooper et al., 2025).
Dalam perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, manusia berhadapan dengan berbagai dorongan dan pertimbangan melalui interaksi antara id, ego, dan superego. Jika disederhanakan dalam konteks kelas, keinginan untuk berbicara dapat berhadapan dengan kekhawatiran: “Bagaimana kalau jawaban saya salah?” atau “Bagaimana kalau teman-teman menertawakan saya?”
Pada kondisi seperti itu, diam bisa menjadi pilihan yang terasa paling aman.
Saya tidak bermaksud mendiagnosis siswa dengan teori psikoanalisis. Justru teori tersebut membantu saya melihat bahwa perilaku diam tidak selalu sederhana. Seorang siswa yang tidak mengangkat tangan belum tentu tidak memiliki jawaban. Ia mungkin sedang mempertimbangkan risiko sosial sebelum memutuskan untuk berbicara.
Di sinilah saya merasa pembelajaran Bahasa Indonesia perlu melihat keterampilan berargumentasi secara lebih utuh. Mengajarkan tesis, argumen, bukti, dan penegasan ulang tetap penting. Namun, kemampuan menyusun argumen tidak otomatis membuat siswa berani menyampaikannya.
Terlebih bagi siswa SMK bidang teknik, pengalaman belajar mereka banyak bersentuhan dengan hal-hal konkret. Mereka terbiasa mengoperasikan mesin, mengikuti prosedur, menemukan kesalahan, mengukur benda kerja, dan mencari solusi terhadap persoalan teknis.
Karena itu, saya mencoba mengubah titik awal pembelajaran.
Saya tidak lagi buru-buru membawa mereka pada pertanyaan abstrak. Saya memulainya dari sesuatu yang mereka kenal. “Kesalahan apa yang paling sering terjadi saat praktik mesin?” “Mengapa kalian memilih cara itu?” “Apa yang akan kalian lakukan jika cara tersebut tidak berhasil?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih mudah dijawab. Siswa tidak perlu mencari gagasan dari ruang yang terlalu jauh. Mereka cukup mengingat pengalaman yang pernah dialami, kemudian menjelaskan alasan di baliknya.
Dari sana, saya mencoba membangun tahapan yang sederhana: pengalaman, pendapat, alasan, lalu bukti.
Misalnya, seorang siswa menceritakan kesalahan yang pernah dilakukan saat praktik. Saya kemudian meminta dia menjelaskan mengapa kesalahan tersebut terjadi. Setelah itu, ia diminta mempertahankan pendapatnya dan mencari alasan yang lebih kuat. Secara perlahan, pengalaman praktik yang semula hanya berupa cerita mulai berubah menjadi argumen.
Bagi saya, inilah salah satu bentuk best practice yang dapat dilakukan guru Bahasa Indonesia di SMK: membawa dunia siswa ke dalam pembelajaran bahasa.
Pendekatan tersebut bukan berarti menurunkan standar. Sebaliknya, guru sedang membangun jembatan agar siswa mampu mencapai standar yang lebih tinggi. Siswa tidak langsung dilempar ke persoalan abstrak, tetapi diberi pijakan dari sesuatu yang sudah mereka kuasai.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah menciptakan suasana kelas yang aman untuk mencoba.
Data PISA 2022 menunjukkan bahwa 86 persen siswa di Indonesia merasa memiliki rasa memiliki terhadap sekolah. Namun, 13 persen merasa seperti orang luar atau tersisih, 12 persen merasa canggung atau tidak pada tempatnya di sekolah, dan 16 persen merasa kesepian di sekolah (OECD, 2023). Data tersebut memang tidak secara khusus mengukur keberanian berargumentasi di kelas, tetapi menunjukkan bahwa pengalaman sosial siswa di sekolah merupakan persoalan yang patut diperhatikan.
Karena itu, guru perlu membangun kebiasaan bahwa kesalahan dalam menjawab bukan sesuatu yang memalukan. Jawaban yang belum tepat dapat menjadi bahan untuk berpikir bersama. Siswa juga perlu diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan teman sebelum menyampaikan pendapat di depan kelas.
Dengan cara tersebut, keberanian berbicara tidak dipaksa muncul dalam satu pertemuan. Ia dibangun sedikit demi sedikit.
Pengalaman mengajar di SMK membuat saya semakin menyadari bahwa siswa Teknik Mesin dan Otomotif bukanlah siswa yang miskin gagasan. Mereka mampu berpikir logis, memecahkan masalah, dan memberikan alasan yang kuat ketika berbicara tentang sesuatu yang mereka kuasai.
Tantangannya adalah membantu mereka membawa kemampuan tersebut keluar dari ruang mesin dan bengkel, lalu menggunakannya untuk memahami persoalan yang lebih luas.
Mungkin selama ini kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa siswa yang diam berarti tidak tahu. Padahal, diam bisa berarti banyak hal. Ada siswa yang belum menemukan kata-kata. Ada yang belum terbiasa menyampaikan pendapat. Ada pula yang sebenarnya memiliki gagasan, tetapi masih takut terhadap penilaian orang lain.
Maka, tugas guru Bahasa Indonesia bukan hanya mengajarkan bagaimana argumen disusun. Tugas kita juga menciptakan ruang agar siswa berani melahirkan argumen tersebut.
Sebab, sebelum siswa mampu mempertahankan pendapat di hadapan orang lain, mereka perlu merasa bahwa suaranya layak didengar.
Siswa diam bukan berarti tak punya gagasan. Bisa jadi, mereka hanya sedang menunggu ruang yang cukup aman untuk berbicara.
Daftar Pustaka
Cooper, K. M., Busch, C. A., & Brownell, S. E. (2025). Student identities predict classmate and instructor fear of negative evaluation among undergraduates in large-enrollment introductory biology courses. Journal of Microbiology & Biology Education, 26(2), e00191-24. https://doi.org/10.1128/jmbe.00191-24
OECD. (2023). PISA 2022 results (Volume I and II)—Country notes: Indonesia. OECD Publishing. https://www.oecd.org/en/publications/pisa-2022-results-volume-i-and-ii-country-notes_ed6fbcc5-en/indonesia_c2e1ae0e-en.html
*Esai ini merupakan luaran dari program pelatihan dan pendampingan literasi digital berbasis AI yang diselenggarakan oleh Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) UMS.



